Make your own free website on Tripod.com

Tahun Ajaran Baru

Di Indonesia setidaknya ada 2 moment penting yang selalu dirayakan hampir semua penduduknya. Adalah saat-saat pergantian tahun masehi dan tahun ajaran/akademik baru. Untuk tahun baru masehi, gregetnya sampai semua  negara. Jelas, mayoritas bangsa di dunia sepakat menobatkan kalender masehi sebagai kalender internasional. 1 Januari diangkat sebagai hari pertama dan 31 Desember sebagai ujung tahun. Dirayakan dengan sangat meriah. Pesta kembang api dan terompet pating tlecek di seluruh belahan dunia. Semua itu disambut penuh kegembiraan.

 

Sementara itu, tahun ajaran/akademik baru justru disambut dengan aneka perasaan. Ada yang bangga, sedih, pusing ratusan keliling, bingung,sampai hanya biasa-biasa saja. Bangga karena lulus, nilainya ‘sudah kompeten’. Sedih karena belum sesuai harapan;guru’dosennya bilang ‘belum kompeten’. Biasa-biasa saja merayakannya adalah cara yang sering tak disadari. Misal begitu lihat raport, udah langsung cuek. Tak pernah dibahas lagi.

 

Pusing ratusan keliling! Ini yang dialami para orang tua khususnya. Bingung setengah mati (kok tidak ada istilah “setengah hidup”?) memilihkan sekolah lanjutan. Perang siasat antar lembaga pendidikan tambah memanas. Api perang muncul di mana-mana. Sekolah dan perguruan tinggi berpacu merebut anak didik terbanyak dan ‘terpintar’. Adakalanya, demi menawarkan kursi yang masih kosong, rela menurunkan martabatnya sendiri. Memfitnah institusinya sendiri. Siswa dan orang tuanya baru sadar setelah siswa duduk di kursi tersebut.

 

Pusing tidak hanya dialami orang tua yang putranya akan melanjutkan ke tingkat lebih tinggi. Tapi juga yang lain. Bingung mikir finansial yang harus dikeluarkan. Mulai uang pendaftaran, sumbangan pembangunan (uang gedung), uang bulanan, uang saku dan uang buku. Ditambah keperluan tetek bengek lainnya: seragam, sepatu, tas dan asesoris sekolah lain.

 

Belum lagi janji pemerintah terhadap pendidikan belum terealisasi. Anggaran pendidikan masing-masing diambilkan min.20% dari APBN dan APBD. Sekolah gratis belum sepenuhnya. Sementara itu, kata orang banyak, kunci keberhasilan pembangunan negara dapat dilihat dari kualitas pendidikan. Ternyata tahun ajaran baru membuahkan: “mosi tidak percaya” pada pemerintah. Sungguh ironis dan dilematis!