Make your own free website on Tripod.com

Kian Sesak

 

Itulah kata yang pantas diucapkan untuk keadaan bumi kita. Bayangkan, tiap hari selalu saja ada yang lahir, meski juga ada yang mati. Entah manusia, hewan bahkan tumbuhan. Tak terkecuali para jamur, algae dan protozoa. Bakteri dan virus tak mau ketinggalan. Pertambahan populasi mereka bertambah seiring bertambahnya umur alam semesta. Pertumbuhan tersebut berlangsung dalam skala besar dan singkat temponya. Sementara habitat dan nutrisi sangat terbatas.

 

Untuk manusia saja sekarang katanya “sudah tak ada tempat” untuk bermukim dengan layak. Begitupun hewan, mereka bingung menginjakkan kakinya di mana. (yang jelas di bumi dong!). Bagi yang habitatnya di air, sudah klepek-klepek akibat limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Tumbuhan kebingungan akan menancapkan akarnya di mana.

 

Para jamur(fungi) sudah kesulitan men-dekomposisi sisa makhluk hidup-karena “stok” yang menumpuk. Algae, Protozoa dan teman-temannya membutuhkan pertolongan segera. Mereka kesulitan mencari substrat (boleh juga dikata habitat).

 

Sementara itu, bakteri yang mampu ber-binary fission dalam kisaran tiap 20 menit sampai 6 jam, pusing ribuan keliling mencari substrat yang baik dan makan. Sedangkan virus lebih menyedihkan lagi. Tiada makhluk hidup (sebagai substrat), ia mati!

 

Itulah gambaran kasar (lagi menyedihkan) keadaan makhluk hidup di bumi.

 

Dalam waktu sama, akumulasi gas-gas berat meningkat. Gas-gas tersebut “ditolak” atmosfer untuk “dikonstruksi” ulang. Otomatis, mereka hanya dapat bersabar dan terpaksa menyingkat daur biogeokimianya. Penyingkatan tersebut bagai simalakama bagi para penghuni bumi. Diterima, hidup kacau. Ditolak, akhirnya mati juga. Sungguh sangat menyesakkan!

***

Sebenarnya disinilah “tugas” manusia. Wajib mengelola dan melestarikan keseimbangan ekosistem alam semesta. Biarlah alam sendiri yang menyeimbangkan ekosistemnya. Manusia tak perlu ikut campur! Kita tak usah repot menangkap, memburu dan membunuh bahkan membasmi ular, macan,tikus dan aneka makhluk lainnya. Biarkanlah mereka hidup tenang di dunianya sendiri. Asal kita tidak mengganggu dan merusak dunianya, tenanglah alam semesta.

Ketenangan itu  bisa juga kita wujudkan dengan tidak “mengawinkan” gas polutan dengan udara pernafasan

 

Bumi memang makin sesak, tapi haruskah kita mengurangi kepadatan makhluk bumi, yang belum tentu akan mencelakakan?